Tampilkan postingan dengan label unrequited love. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label unrequited love. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 Mei 2015

Cerita Rindu Cerita Candu



                Entah kenapa hampir tiap malam dia seakan menyuruhku untuk tetap terjaga, bahkan untuk semenit pun dengan kejamnya ia tak membiarkanku beristirahat. Aku terengah-engah karena dipaksanya terus memainkan memoriku, kenangan yang pernah terekam saat bersamanya.
                Rindu menyelinap setiap detik, tapi tak satu Ceitapun upaya yang bisa kulakukan. Hanya duduk memangku dagu dan berdoa dengan lantang kepada Tuhan, mengharapkan ia pun turut rindu.
“Tuhan, aku harus bagaimana disaat aku benar-benar sekarat menginginkan kehadirannya,”
                Beribu kalimat yang sulit untuk kutumpahkan, perasaan kesal bahkan rasa seduku yang bahkan kupikir orang lain pun takkan bisa untuk mengejanya, ternyata hanya dibungkus sempurna dengan sebuah kata sederhana, yaitu rindu.
                Dia. Dengan sengaja Tuhan memberikannya padaku sebagai penawar racun. Menjadi obat terajaib ketika tak ada satu pun manusia yang mampu menyembuhkannya. Tapi logikaku semakin tak selaras, saat ia malah menjadi candu bagiku. Aku terlalu berlebihan mengkonsumsi kehadirannya.
                Saat ini, jarak sedang membantuku untuk menghilangkan candu itu. Bukannya membaik, aku malah merasa napasku tak berjalan sebaik biasanya. Tanganku terlipat, kepalaku menengadah.
“Tuhan, tolong……. Ini bukan candu. Aku butuh kehadirannya sekarang juga, dia masih tetap obat terajaibku. Aku sakit, aku butuh obatku,”


Disudut ruang dengan rasa rindu teramat sangat,
Kamis, 28 Mei 2015 pukul 02.34
Beryl Kathryn.

Sabtu, 24 Januari 2015

Ketika Diam Berarti Berharap



Aku memeluk sebuah novel yang cukup tebal, erat-erat. Semakin lama antrian itu semakin panjang, tapi aku bukan salah satu orang yang sedang mengantre. Aku terlalu takut untuk bertatap muka dengan si penulis idolaku, Yoga. Telapak tanganku mulai berkeringat. Kegugupanku sudah mencapai stadium tiga.
Melihat wajah Yoga yang tak banyak berubah, aku jadi teringat dengan beberapa tahun ke belakang dimana aku dan dia masih berada di bangku sekolah. Saat itu kami satu kelas selama dua tahun namun kami tak sedikit pun mengenal satu sama lain. Kami tak pernah saling ucap, saling sapa, bahkan saling berbicara. Waktu itu, aku hanyalah gadis pendiam yang tak memiliki banyak teman. Orang-orang bilang aku terlalu fokus belajar, hidupku terlalu lempeng untuk bisa dinikmati, tapi mereka tahu apa? Mereka hanya bisa menebak usil.
Ya seperti cerita cinta anak SMA lainnya, aku jatuh cinta pada yoga, si bintang kelas. Mirisnya, aku sama sekali tak bisa mendekatinya sama seperti teman perempuan sekelasku yang lain. Aku sama sekali tak mengharapkannya untuk jadi milikku, tapi aku hanya ingin berteman dekat, itu saja sudah cukup.
Mengingat masa sekolah dulu, memoriku pun kembali saat aku begitu rajin menuangkan beribu kesahku ke dalam puisi yang terpajang di majalah dinding sekolah. Setiap kali puisiku di pajang, selalu saja direndengkan dengan sebuah puisi yang sama sekali tak memiliki sebuah nama pemilik. Puisi misterius itu seperti sebuah jawaban dari kegelisahan puisiku. Selalu seperti itu. Aku tak tahu harus bertanya pada siapa. Hingga aku menempelkan sebuah note dan stiker di atas puisi misterius itu. Note dan stiker itu menghilang tapi aku tetap tak mendapat respon dari orang itu. Bahkan hingga sekarang pun aku belum mengetahuinya dan rasa penasaran itu tidak pernah hilang.
“Bintang!” Aku tersadar dari lamunanku ketika seseorang memanggil namaku.
“Kenapa belum mengantre? Kamu mau menunggu sampai kapan lagi?”
“Tapi aku takut, Pril,”
“Ayo! Ngapain harus takut? Nggak bosan bertahun-tahun mengagumi dari jauh aja?”
April menarik lenganku secara paksa hingga kami berada dalam barisan. Wajah khawatirku membuat April tersenyum puas. Hingga giliranku tiba, aku hanya bisa terpaku dengan novel yang masih berada dalam pelukan. April merampas novelku dan memberikannya pada Yoga.
Penulis itu memandangku. “Atas nama siapa?”
“Bi-Bintang,” kataku gagap.
Aku melihat sang penulis merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sesuatu yang lolos dari pandanganku. Aku penasaran dengan apa yang diselipkan Yoga ke dalam novelku. Tapi penasaran itu aku coba tahan.
“Terimakasih, ya, Bintang,” katanya.
Aku tersenyum canggung dan berlalu. Sesegera mungkin kami menjauh dari pandangan Yoga dan melihat apa yang tadi diselipkannya di dalam novel.
“Ng….” Aku membisu, tak mampu mengucapkan sepatah kata pun ketika melihat sebuah note dan stiker yang dulu aku berikan pada penulis misterius itu, malah kembali lagi padaku. Masih ada lagi! Ada sebuah tulisan di halaman pertama novel itu,
‘Hai, aku merindukanmu. Satu-satunya penggemar beratmu.’ Dibawah tulisan itu tertambat tanda tangan Yoga.

Selasa, 13 Agustus 2013

Dear PHP!!!


Terlanjur dari awal aku sudah membayangkan semua keindahan yang ku kira akan benar-benar terjadi. Tapi semua semu, semuanya hanya bermuara dalam anganku. Kepadamu, aku menaruh harapan yang begitu tinggi. Kepadamu, aku terlanjur memimpikan hal yang terlalu mustahil untuk diwujudkan.
                Tapi apa daya, aku hanya bisa mengharapkan semua hal yang benar adalah keinginanku. Aku kagum akan adanya ciptaan Tuhan yang bersanggah di hatiku. Setiap hari aku sudah terbiasa merangkul rindu yang selalu bertekuk dalam dirimu. Aku memangku harapan akan kehadiranmu untuk menghapus kerinduan yang mungkin akhirnya akan memaku jiwaku dalam bayanganmu.
Semua kekosongan selalu aku isi dengan ingatanku tentang betapa magisnya wujudmu. Kamu penyebab semua alasanku melamunkan hal yang di atas ambang kesadaran. Disini yang terbeban dalam pundak khayalku hanyalah sebuah tanya; ”kapankah akhirnya kita akan memadu rasa yang tak bertepuk sebelah tangan akan datang padaku dari padamu?”
Aku tak pernah mengerti kenapa perasaanku bisa sangat tulus tercipta hanya untukmu? Rasanya salah aku bisa mencintaimu sebegini dalam.

Rabu, 14 November 2012

#tandatanyadantitik



            Aku terjebak di dua sosok yang belum tentu keduanya mencintaiku. Aku mencintai mereka. Bukan salah satu dari antara mereka tapi keduanya. Ini memang perasaanku. Rasa cinta satu hal yang sama sekali sulit terkendali. Hingga akhirnya aku terperosok di satu titik dan tenggelam dalam sebuah tanda tanya.
            Kamu adalah seseorang yang dingin dan begitu menyenangkan. Kamu sederhana bagai alunan piano yang mengalun sederhana memasuki relung jiwaku. Kau hujani aku dalam tenangmu. Tersenyum dirimu bertanda haru. Mencoreng debu hilangkan aku. Kau mengaliri jiwaku dengan segala keheninganmu. Namun karena sederhana itu yang buatku menjadi kalbu. Justru karena sederhanamu yang membuatku bingung. Justru sederhanamu itu sebuah teka-teki yang perlu aku cari jawabannya dan hanya tanda tanya yang aku dapat.
            Dia adalah sosok yang membuat hatiku lebih menyenangkan. Membuat tawaku erselip dalam hari-hari yang menyesakkan. Tingkahnya berlebihan namun karena itu yang aku perhatikan darinya. Dan tak ada kepura-puraan darinya. Namun tawanya bukanlah untukku. Si gadis biasa yang tak mampu berapa-adanya.
“kamu bodoh! Kamu biarkan hatimu sakit! Pelampiasanmu pun kau biarkan ikut menyakitimu. Seolah-olah mereka berdua sudah menyusun rencana buruk untukmu!”
            Aku biarkan ucapan mereka menjadi tawar dan tak berguna. Hingga mereka pun bosan menceramahiku dengan mulut mereka yang sudah berbusa dan meninggalkan aku yang tengah mematung memikirkan penyakitku. Mereka benci dengan sikapku yang seperti ini, tapi TEMAN tetaplah TEMAN.
            Mereka pergi. Aku menatap kepergiannya yang semakin menjauh dari pandanganku. Mereka pergi dan membiarkan aku sendiri. Dan aku menangis.
            “kamu nggak seharusnya menangisi orang yang belum tentu mengerti apa itu arti tangis!” sanggah seorang pria mencobamenemani kesendirianku. “tapi ini perasaan dan bukan aku yang menginginkannya!”
“jadi kau mau apa dari mereka berdua?”
“cinta?” jawabku polos.  “apa yang kau inginkan dari mereka selain cinta? Toh, kamu tahu mereka tak membalas cintamu.”  Aku hanya mampu mematung.
“kau egois! Kau biarkan dirimu terluka hanya demi mendapatkan cinta mereka. Sedangkan orang yang mencintaimu sama sekali tak kau anggap sama sekali! Kau lebih mementingkan perasaanmu!”
“memang aku egois! Dan semua orang egois! Termasuk kau! Siapa yang akan bertahan dengan wanita egois sepert aku, hah?” “ masih tak mengertikah kau?  Siapa yang selalu memberikan pundak untukmu saat kau menagis?” katanya “ aku....! aku yang rela sakit melihatmu berjuang mendapati orang yang kau cintai itu. Aku menahan perih menatapmu yang selalu dalam sendu. Kau tak mengerti perasaanku.”sambungnya lagi.
            Aku hanya mampu mematung. “aku selalu memperhatikanmu dari jauh dimana kamu memerhatikan orang lain yang bukan aku. Apa kamu merasa sakitku? Kamu enggak merasa bagaimana rasa perihnya hatiku sama seperti mereka yang juga tak merasakan perihnya sakitmu.”
“aku mohon jangan seperti ini...!”ucapku tak enak.
“Tolong beri aku alasan mengapa kamu mencintai mereka dan beri aku alasan mengapa kamu tak bisa mencintai aku!”

Sabtu, 14 April 2012

road in your heart

Berawal dari kisahku yang berujung sakit, hingga akhirnya pun aku menemukan dirimu. walau tak mudah tuk mendapatkanmu namun kan ku coba hanya untukmu. sempat ku tersesat saat menyusuri hatimu didalam kegelapan tanpa ada tanda kehidupan. Tapi saat itu tiba, ketika cahaya mulai menerangi hatimu dan aku pun kembali bisa berjalan dan mengikuti kemana arahnya akan berakhir. Ku coba untuk mencari jalan pintas agar aku dapat cepat memasuki kerajaanmu, namun tak kusangka aku terperosok semakin dalam yang sangat susah untukku bisa bangkit. Kukuatkan diri tuk bangun walau susah rasanya dan kulanjutkan perjalananku ini. Hingga akhirnya kusadari ternyata jalan dihatimu tiada ujungnya, aku menyerah. Diriku terperangkap dalam kegelapan didalam hatimu ini. (TCA)