Tampilkan postingan dengan label cerita senja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita senja. Tampilkan semua postingan

Jumat, 19 September 2014

Lawan Kata Pertemuan



Hatiku teriris ketika melihat tawa mereka yang membuncah. Akhir-akhir ini aku tak mampu tertawa selepas itu, mengingat bahwa sebentar lagi kami akan terpisah satu per satu karena kelulusan sekolah.
“Kamu kenapa sih, Ra?” tanya salahsatu temanku yang menyadari perubahan sifatku.
“Nggak apa-apa,” jawabku sedikit cengengesan.
“Tapi kok melamun terus,”
“Enggak kok,” Aku menggeleng kepalaku.
Senja mendominasi cakrawala ketika kami berlima berkumpul membentuk lingkaran didepan kelas. Belakangan ini kami menjadi lebih sering pulang sore hanya sekadar untuk bercerita satu sama lain. Karena kami sadar sebentar lagi kami takkan mampu bercanda bersama seperti ini lagi.
Dita, Reza, Andre, Lala, dan aku, tak pernah habis bahan pembicaraan. Kami selalu saja memiliki cerita-cerita lucu yang seringkali mengocok perutku. Tapi untuk hari ini, wajahku tak mampu berseri karena selalu terbayang dengan perpisahan yang akan datang dalam waktu dekat ini. Tiba-tiba air mataku menitik. Kekhawatiran ke empat sahabatku terpancar ketika mereka melihat tangisanku.
“Ra, kamu kenapa?” tanya Lala.
Aku tak mampu menjawabnya karena tenggorokanku serasa kaku. Aku menangkupkan kepalaku ke dalam kedua telapak tanganku. Andre dengan sekejap mata sudah berada disampingku kemudian merangkulkan lengan kirinya ke pundakku.
“Kayra?” tanya Andre.
“Kayra nangis? Ah bukan gaya Kayra banget,” sela Dita.
Semua terdiam sejenak, menungguku untuk membuka suara.
“Kita bentar lagi pisah,” kataku sesenggukan.
Aku mendengar Reza menertawaiku. “Perpisahan SMA bukan akhir dari segalanya kali,”
“Bukan itu maksudnya,”
“Gini, lho, Ra. Sebenarnya farewell nanti cuma formalitas aja. Habis lulus kita nggak akan pisah, kita tetep bareng-bareng, kok. Ya kan?” Andre meminta respon teman-teman yang lain.
“Iya benar, kita harus sukses bareng-bareng!” seru Dita.
Aku mendongakkan kepala. “Janji?” tanyaku sambil mengacungkan kelingking.
“Janji!!!” teriak mereka bersamaan.

Rabu, 12 Juni 2013

senja ada cerita

    
Tepat waktu. Sesampainya, aku langsung menaiki anak tangga yang terpaku di pohon besar, dihadapanku. Segesit mungkin aku mencari posisi ternyaman untukku duduk. Hanya tinggal seperempat jam lagi matahari akan turun ke habitatnya. Mengusaikan pekerjaannya hari ini.
      Sedikit-sedikit gundukan awan di langit sana memerah, menanarkan warna lembayung senja. Bola mataku merekam kejadian indah itu. Disaat warna merah memudar menjadi jingga. Kukeluarkan sebuah voicerecorder.
      “Aku mencintai senja. Aku mencintaimu. Tak akan ada yang bisa menalarkan untaian kata indah tentangmu.  Yang ku tahu senja adalah kamu.” Aku mendengarkan setiap ucapan yang terdengar dari benda tersebut.
        “Aku mencintaimu juga. Sekarang aku melihat senyummu di lembayung itu. Kau pasti bahagia telah bersatu dengan senja.” ucapku berbisik, berbicara sendiri. Mungkin hanya voicerecorder itu yang menjadi pendengar bisu dari curahan hatiku yang ku semburkan.
         Aku mendengar percakapan dalam voicerecorder itu. Pilu ketika mendengarnya, air mataku menitik jatuh tanpa diminta.
         “Aku nggak mau melepasmu seberapa pun ketidaksempurnaan aku.” terdengar suara Riko dari dalam voicerecorder.
         “Jangan bicara soal itu, Riko! Kamu selamanya sempurna. Disini… Di hati aku…”
         “Kamu tahu tidak? Bibir itu terlalu mudah berbicara. Pernyataan bibir itu tak pernah sesuai dengan kenyataan. Tapi untuk perkataanmu, aku percaya. Dan aku harap kamu jujur.”

         “Love you..” kataku menyambar. Mendengar semua percakapan tadi, hatiku tak mampu membendung nestapa.
         Dua bulan Riko pergi dari bumi ini, kaki-kakinya tak lagi berpijak pada bumi. Riko membawa album kenangan yang tak mungkin kembali. Senyap. Setiap matahari tenggelam, aku selalu hadir di tempat ini. Di rumah pohon milik Riko. Perlakuanku yang seperti ini terus menerus terjadi, setiap hari, hanya untuk menepati janjiku pada Riko, untuk selalu menjaga ‘si kecil’ kami. Senja. Matahari yang warnanya memias, itulah sosok yang dikagumi Riko. Aku pun tertarik pada hal yang sama dengannya.
         Butir air mataku terbingkai disudut mata. Riko, satu-satunya alasanku atas lamunan yang setiap detik aku lakukan. Aku selalu melamunkan kehadirannya. Dia membawa kabur kebahagiaanku. Meninggalkan sekotak besar rindu. Aku masih tak tahu sampai kapan akan berhenti menunggu, padahal sebenarnya ia tak akan pernah kembali. Aku masih belum bosan duduk di rumah pohon ini, sembari memandangi semburat indah lembayung senja.
         “Ariiiin!” teriak seseorang memanggil namaku. Aku menoleh.
         “Rio? Kenapa bisa disini?”
         “Ikatan batin, mungkin?”
         “Haha... Ayoo, pulaaang”
         Aku turun dari rumah pohon segesit mungkin. Sampai di anak tangga terakhir, aku melompat lalu menyambar lengan Rio. Aku menenggelamkan mukaku dibahunya. Rio merangkulkan tangannya dipundakku. Kami saling berangkulan. Kami berpelukan. Aku merasa berdosa karena sudah memagarinya dengan kebohongan yang aku buat, sekian lama ini. Tapi mencintai Riko dibelakang Rio bukan sebuah kesalahan selama 6 bulan ke belakang, bagiku.
         Aku bahagia, ahhh sudah, aku saja benar-benar tidak tahu mendeskripsikan rasa cintaku pada Riko, yang tercipta dibalik hubunganku dengan Rio. Riko sudah pergi duluan sebelum sempat membongkar semuanya, seperti yang akan kami wujudkan, tapi gagal. Biarlah keadaan ini jadi kenangan yang menyelimutiku.
         Wajah sore memias tertutupi gelap malam yang tak sabar datang. Aku menyeka air mata yang menyeruak keluar. Lembap membasahi jaket Rio yang terkena air mata. Lembap, karena wajahku terbenam dalam dada bidang Rio. Dia tak banyak bicara, apa lagi tanya, dia hanya diam dan membiarkanku merasa puas tenggelam dipelukannya. Aku mencintaimu…. Rioo… Rikooo… <3