Tampilkan postingan dengan label cinta segitiga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cinta segitiga. Tampilkan semua postingan

Jumat, 19 September 2014

Tak Ingin Memiliki Cerita (2-END)



Sesaat kemudian, tangannya yang kokoh itu sudah melingkari tubuhku. Kini aku sedang berada dalam pelukannya. Aku tak bisa mengelaknya. Justru yang aku inginkan dari dulu memang seperti ini. Berada dipelukannya dan menangis sebanyak-banyaknya.
“Aku minta maaf buat hal-hal buruk yang menyakiti hati kamu. Mulai sekarang, aku nggak mau nyakitin kamu kayak gitu lagi. You’re mine, right now,” ungkap Aldi.
Aku tak menyangka ia akan berbicara seperti itu. Degub jantungku berpacu dua kali lipat dari biasanya. Aku mendongakkan kepalaku, seakan tak percaya dengan apa yang diucapkannya barusan.
“Aku nggak bercanda,” katanya memperjelas keadaan.
***
Aku tiba didepan rumahku setelah Aldi mengantarku pulang. Pandanganku teralih pada sebuah motor yang bertengger dirumah sebelah. Ternyata Regi sudah pulang dari tadi, pantas saja di cari disekolah ia tidak ada. Regi meninggalkanku berdua dengan Aldi disekolah. Betapa jahatnya dia.
Aku hanya menyimpan tasku di ruang tamu. Tanpa mengganti pakaian, aku pergi menuju rumah Regi. Seperti biasanya, aku sudah terbiasa masuk ke kamarnya meski tanpa minta izin pada mama Regi. Dimata mamanya, aku seperti anak perempuannya.
“Gi, kamu tega ninggalin aku gitu aja. Jahat,” kataku.
Regi mendongakkan kepalanya. “Bukannya kamu pulang bareng Aldi?”
“Iya, sih. Eh, tahu nggak? Aku udah jadian dong sama Aldi,” kataku sambil menyentuh rak buku Regi.
“Hahaha, iya udah tahu. Udah ketebak,” cetusnya lemas.
“Kamu kok kayak yang nggak semangat gitu? Nggak seneng ya, temen kamu udah jadian sama orang yang dicintainya, lho?”
“Aku seneng kok. Congratulation, ya, Fira,”
“Gitu dong,” kataku sambil berkacak pinggang.
“Tapi kalau aku suka sama kamu gimana, Ra?”
Deg! Aku kaget mendengar ucapan Regi.
“Kamu bercanda, kan?” tanyaku meminta kepastian.
Emosiku berubah seketika. Aku terdiam dan menatapnya beberapa waktu.
“Aku serius, Ra. Kalau aku suka sama kamu gimana, Ra?” Regi mengulangi pertanyaannya.
***
Aku menghindari Regi seharian ini. Disekolah aku sama sekali tak bercakap dengannya. Sebenarnya aku ingin menganggap bahwa tak terjadi apa-apa antara kami. Namun kecanggunganku membuat keadaan memburuk.
Kini aku menyesal ketika seseorang memberitahuku bahwa Regi mengalami kecelakaan sementara aku sedang senang-senang bersama Aldi. Ketika mendapat kabar buruk itu, aku bergegas menyuruh Aldi untuk mengantarku ke rumah sakit yang menangani Regi.
“Regi….,” Aku meraung-raung sepanjang perjalanan. Aldi dengan semaksimal mungkin menjalankan motornya tanpa menenangkanku sedikitpun. Aku melihat kekhawatiran diwajahnya.
Aku setengah berlari ketika melihat di ujung koridor berada kedua orang tua berjalan mondar-mandir di depan UGD. Aldi mengikutiku dari belakang.
“Gimana keadaan Regi, tante-om?” tanyaku.
Mereka hanya menggeleng-gelengkan kepala. Kakiku yang lemas membuatku tak mampu berdiri lagi hingga membuatku tersungkur ke lantai. Air mataku meleleh meski aku tak mengeluarkan suara rengekan.
Aldi menghampiriku kemudian membuatku berada dalam pelukannya. “Ayo makan dulu. Nanti kamu sakit,”
Aku melepas pelukannya lalu menatap lekat-lekat sepasang bola matanya. “Aku nggak mungkin bisa makan sementara Regi lagi bertaruh nyawa didalam sana,”
Aku melirik kedua orangtua Regi yang meminta izin padaku untuk pergi sebentar.
“Udah, Ra. Regi bakal baik-baik aja. Percaya sama keajaiban,” ucap Aldi menenangkan.
Aku menepis sentuhan tangannya di puncak kepalaku. “Ini semua karena aku. Karena hubungan kita. Kalau kita enggak jadian, pasti keadaannya gak akan kayak gini. Ini salah aku karena aku ngejauhin dia,”
“Kamu enggak salah, Fira. Semua ini udah diatur sama Tuhan. Jadi jangan nyalahin diri kamu sendiri,” bela Aldi.
“Regi suka sama aku. Kita enggak seharusnya jadian,”
“Jadi mau kamu kita putus?” tanya Aldi meminta penjelasan. Tapi aku tak menghiraukannya sedikitpun. Kebisuanku seolah menjawab pertanyaannya, ia berlalu meninggalkanku. Air mataku semakin deras.
***
Regi pergi ke tempat yang seharusnya ia berada. Tanpa rasa sakit, tanpa penderitaan. Aku sama sekali tak mengeluarkan air mata sepanjang perarakan pemakaman Regi. Hanya saja hatiku terasa acak-acakan, kenapa bisa secepat itu? Semudah itukah semua itu berlalu? Hidup ini terlalu lucu untuk aku tertawai.
Orang-orang satu per satu menaburkan bunga serta turut berbela sungkawa pada kedua orangtua Regi, sementara aku pergi ke tempat yang jauh dari keramaian orang-orang. Berharap aku mampu menenangkan diriku sendiri.
Tiba-tiba seseorang menyentuh pundakku dari belakang. “Jangan pernah menyesal sama keadaan yang sudah terjadi, Ra. Paling nggak kamu ada disamping dia, saat dia pergi. Aku yakin dia nggak akan menyesal udah pernah jatuh cinta sama kamu.”
Seperti ada ombak yang sedang berdesir dihatiku ketika aku melihat wajahnya. Sungguh aneh memang, Aldi selalu tahu dimana pun aku berada meskipun di sebuah tempat yang tersembunyi sekalipun. Aku melompat kedalam pelukannya dan menangis sekencang yang aku bisa.
“Maaf…” kataku padanya.

Rabu, 11 Juni 2014

Tak Ingin Memiliki Cerita (1)


Pelukannya semakin erat mengikat tubuhku. Aku mencengkeram seragamnya yang berwarna putih dan mengotorinya dengan air mataku yang tak henti mengalir. Ketika ia mencoba melonggarkan pelukannya, aku malah menariknya semakin dalam. Keadaan sekolah sudah sangat sepi. Matahari yang tadinya terik sudah mulai tak terasa.

“Kamu masih mau terus-terusan menangis kayak gini? Nggak bosan?” tanyanya.

“Kalau kamu capek jadi tempat tangisan aku, kamu boleh kok pulang. Aku nggak apa-apa disini,”

“Kamu selalu aja nangisin dia, Ra. Kalau aku capek, udah dari dulu aku ninggalin kamu sendirian,” ucap Regi.

“Tapi aku sakit hati, Gi. Kamu nggak tahu rasanya dikasih harapan terus dengan sengaja dia campakkin aku gitu aja,”

“Terus sekarang kamu jangan lagi harapin dia. Hanya lihat apa yang ada disekitarmu aja. Ayo, pulang!”

Regi menarik tubuhku secara paksa menuju motor kesayangannya. Ia mulai menyalakan motornya lalu melaju secepat yang ia bisa. Regi mengantarkanku pulang ke rumah.

                                                            ***

Ketika aku sudah turun, Regi memarkirkan motornya di tempat yang kosong. Dalam pandangan lurusku, aku melihat keberadaan Aldi. Spontan aku menundukkan kepalaku, berharap lelaki itu tak menyadari kehadiranku. Aku meraih lengan Regi dan mengaitkan tanganku padanya.

“Anggap kalau kita nggak lihat dia,” bisikku.

Kami berjalan menyusuri satu per satu kelas. Tapi usaha kami gagal, Aldi telah melihat kami. Akibatnya, ia jadi berteriak-teriak memanggil namaku. Meskipun Regi sudah mencoba menghentikan langkah, tapi aku tetap berusaha lebih keras lagi untuk membuatnya tak menoleh ke belakang sedikitpun.

“Fira...” suara Aldi terdengar lebih dekat.

Aku tak mampu mengelak ketika Aldi meraih pundakku dan membalikkan tubuhku dengan sekejap mata. Regi pun ikut berbalik.

“Mau kamu apa? Aku tahu aku yang terlalu berharap sama kamu. Tapi yaudahlah, anggap itu nggak pernah terjadi aja ya. Hehehe,” ungkapku.

“Aku berharap kamu nggak nganggep Nabel sebagai pacar aku. Nggak tahu kenapa, aku merasa kamu harus tahu hal itu,”

“Iya, aku nggak berpikiran gitu kok, tenang aja. Lagian aku siapa sih? Kita kan cuma teman. Aku ke kelas duluan ya!”

Aku menarik Regi untuk pergi menjauh dari lelaki itu. Berharap kalau aku mampu menahan tangis selama berada disekolah. Regi tak mengatakan apapun setelah tadi, ia hanya mengacak-acak rambutku. Kami langsung bergegas ke kelas untuk melanjutkan studi.

***

Orang-orang yang hilir mudik, satu per satu lenyap dari pandangan. Sekolah ini sudah mulai sepi. Aku memandangi kelas yang sudah sangat senyap. Aku  baru saja keluar pintu kelas ketika seseorang memanggil namaku. Orang itu adalah Aldi. Wajahku jadi tertekuk dibuatnya. Aldi menghampiriku tetapi aku malah berjalan ke arah yang berlawanan, dengan maksud untuk menghindar darinya. Tapi dengan cekatan, Aldi menarik tanganku dan menggenggamnya sekencang mungkin sampai aku pun tak bisa melepasnya.

Dibalik tubuh besar Aldi, aku melihat Regi sedang menatapi kelakuan Aldi. Regi menghampiriku, ia melepaskan genggaman tangan Aldi secara paksa. Hal itu membuat Aldi mendorong tubuh Regi hingga hampir terjatuh.

“Al, kamu kenapa? Kalau kamu mau ngomong, kenapa nggak langsung aja? Kenapa harus bikin masalah gini dulu, sih?”

Aldi tak menjawab pertanyaanku. Ia malah memaksaku untuk masuk ke kelas kembali. Ia menutup pintu kelas dan membuat Regi berdiri sendiri di luar kelas. Aku harap Regi tak meninggalkanku sendiri bersama dengan lelaki ini. Aku mulai takut jika lama-lama berhadapan dengannya.

“Kenapa kamu menjauh dariku?”

“Bukannya itu mau kamu? Apa kamu lupa? Hahaha,” kataku terkekeh.

“Kapan aku pernah bilang seperti itu?” tanya Aldi.

“Nggak! Nggak pernah. Aku suka sama kamu, Al. Aku cuma nggak mau tambah sakit hati kalau aku ngelihat kamu dekat sama orang lain,”

“Jadi kamu benar-benar suka denganku?”

“Memangnya kamu pikir bagaimana? Apakah dengan menjadi pendengar setiamu ketika kamu mendapat masalah adalah main-main bagimu? Aku harus menerima malu ketika aku harus menjelaskan perasaanku didepan semua orang dan sampai saat ini kamu hanya menganggap hal itu hanya bercandaan!”

“Ra, aku nggak pernah berpikir kayak gitu,”

“Aku hanya bisa diam ketika kamu sengaja memeluk Nabel didepan aku. Aku tahu kamu hanya bercanda. Tapi kenapa kamu lakuin hal itu padahal kamu tahu kalau aku suka sama kamu. Kenapa?!” jelasku.

“Fira...”

“Kamu juga pernah bilang ke aku buat move on, buat cari yang lain, tapi kamu juga membeberkan perasaan aku ke semua orang. Maksud kamu apa? Mau malu-ma..”
Tiba-tiba tangan Aldi membekap mulutku. Tangannya yang lain menghapus air mata yang tanpa aku sadari sudah membasahi wajahku. Matanya menatap mataku dan mengunci pandangan dengan mudahnya. Aku tak mampu berpaling ke arah mana pun.

Sabtu, 12 Oktober 2013

kamu adalah perih itu



                Tangannya masih merangkulku dan memaksaku untuk menyandarkan kepalaku di bahunya. Air mataku masih menyelinap keluar satu-satu. Matanya menatap jauh ke depan masih memikirkan apa yang tadi aku ceritakan.
                “Tuhan tidak adil, ya?” kataku.
                “Kamu enggak pantes bilang kaya gitu.”
                “Tapi aku bener-bener enggak suka sama rencana Dia yang ngebikin hidup aku berantakan seperti ini.”
                Tiba-tiba lengannya yang melingkar di bahuku lepas. Untuk sementara waktu dia diam dengan tangan mengepal. Aku mencoba melihat apa yang dilihatnya di depan sana.
                “Sekarang kamu harus percaya kalau Tuhan itu akan membuat rencana yang bagus buat kamu. Kamu harus percaya itu. Masalah kamu itu masih gak ada harganya.” Katanya.
                “Aku di acuhin oleh lelakiku sendiri. Dan kamu pasti enggak tahu rasanya kaya gimana!” aku mendumel.
                Aku tahu bahwa lelaki yang ada didepanku ini benar-benar bijaksana dan peduli, jauh berbeda dengan kekasihku. Entah kenapa aku bisa menebak karakternya sekejap. Padahal aku baru mengenalnya barusan. Baru mengenalnya di saat aku duduk menangis dibangku panjang ini sendirian, di tengah taman nan ramai, dan dia tiba-tiba muncul menghampiriku.
                Seolah, aku bagai di hipnotis olehnya untuk menceritakan semua problemaku, dan aku menurut. Aku tidak memberontak ketika dia menarikku ke dada bidangnya. Justru aku sangat nyaman dan dengan percaya diri menangis disitu.
                “Memang aku nggak tahu masalahnya kaya gimana, tapi paling enggak kamu harus bisa ngehandle semua itu baik-baik”
                “Tapi sakit banget rasanya, asal kamu tahu itu.”
                Ucapanku barusan lewat begitu saja, tak di anggap olehnya. Karena dia tiba-tiba berdiri dan pergi. Aku melihatnya berjalan sendiri. Bug! Aku kaget saat lelaki itu menonjok keras rahang laki-laki yang sedang bermesraan dengan perempuannya dibawah pohon, di taman.
                Sebelumnya, aku melihat pasangan tadi itu sedang berciuman erotik di depan umum dan sekarang yang terlihat hanya seorang laki-laki yang aku kenal tadi memukuli laki-laki yang entah siapa. Perempuan yang ada di sana menangis sedu-sedan. Aku menganga.
                Aku sedikit takut saat Doni, lelaki yang baru aku kenal tadi, berjalan ke arahku. Aku takut dia melukaiku.
                “Kamu udah lihat kan? Masih ada masalah yang lebih besar dari pada perkara kamu itu.”
                “Mereka siapa?”
                “Wanita itu istriku.” Kata Doni.
                Aku diam mematung. Aku langsung tersadar betapa aku tidak tahu diri dan tidak pernah bersyukur terhadap-Nya.
                “Cukup aku saja yang tidak percaya pada-Nya.” Kata Doni halus.
                “Don, kamu baik-....”
                Mataku mengerjap. Jantungku berpacu kencang, tidak normal. Darahku sepertinya membeku di saat Doni secepat kilat menaruh bibirnya di bibirku. Tapi perasaan ini seperti tak kosong, rasanya seperti terisi penuh dengan kebahagiaan. Tapi dengan secepat kilat pula, ia menarik bibirnya kembali ke asalnya.
                “Aku tahu kalau kamu bisa hadapin semuanya.” Katanya lagi.
                Dia pergi menjauh lalu menghilang. Ia membiarkan aku terduduk sendiri, merenung memikirkan segala hal yang terjadi secepat ini. Aku menangis di bangku ini sendiri lagi. Sama seperti yang aku lakukan sebelum aku mengenal Dony.
                Ia sudah pergi menghilang, kapankah aku bisa bertemu dengannya lagi? Aku rasa aku mencintainya. Sekarang aku percaya kalau kejadian ini bukanlah kebetulan.

Jumat, 04 Oktober 2013

kecelakaan



                Aku membuka mata lalu terdiam sejenak. Selanjutnya, menangis dalam kesendirian. Aku sengaja tak memberikan suara raungan dalam sedih ini, aku tahu kalau seseorang mengintai ragaku.
                “Ba, lo nangis lagi? Udahan dong, ba, sedihnya.”
                Benar saja, orang yang tadi mengintip dari pintu kamarku yang setengah terbuka tadi masuk ke kamar dengan santai sambil mencoba menghiburku. Aku melirik keberadaannya lewat sudut mataku, ia sudah berbaring di kasur.
                “Lo nggak pernah ngerasain kangen sama orang? Sakit tahu rasanya!” ucapku membentak.
                “Gue sering kok kangen kaya kamu gini. Tapi kamu harus bisa lebih kuat.”
                “Jangan sok ngajarin gue. Lo nggak pernah, kan, kangen sama orang yang sudah meninggal?”
                “Gue emang nggak pernah ngerasain, tapi bukan berarti kamu jadi melankolis kaya gini.” Kata Winda.
                “Tutup mulut lo deh. Jangan pura-pura peduli sama gue! Lo penyebab semua ini tahu.” Emosiku memuncak.
                Pandangan gadis itu melayang, sementara waktu ia membisu, hanya meneliti setiap senti sosokku yang amburadul. Mulutku setengah terbuka ketika Winda melenggang pergi dan menghentakkan pintu kencang-kencang. Sebelumnya ia berkata; “Diba, semua ini bukan seperti yang lo kira.”
                Air mengucur deras dari pelupuk. Badanku bergoncang karena menahan rengekan.
                Waktu itu, beberapa bulan yang lalu, Dio meninggal karena kecelakaan mobil. Aku bersamanya saat itu. Di dalam mobil, kami beradu mulut hebat. Dio tidak fokus mengendarai mobilnya karena teriakanku yang memekakan telinganya. Hingga akhirnya di sebuah perempatan jalan, Dio tak melihat lampu lalu lintas, mobilnya tertabrak oleh truk yang ingin melintas berlainan arah dengan mobil kami saat itu. Dio menjadi korban jiwa, sedangkan aku hanya luka ringan di daerah kepala.
                Aku benci. Sangat benci. Hal ini terjadi karena semua penyebab itu adalah karena Winda. Ia
terlalu murah, bisa-bisanya ia mendekati Dio yang jelas-jelas sudah jadi milikku. Waktu itu Winda dan Dio sama-sama mengelak, menurut mereka, mereka hanya dekat sebagai teman saja. Tapi mata kepalaku berkata lain. “Ba, gue cuma curhat doang kok ke cowok lo.” Kata Winda. “Kalau cemburu, bukan gini caranya. Berpikir jernih dulu dong” sanggah Dio.
                Kalau kenyataannya ternyata benar seperti apa yang di katakan mereka, berarti aku yang salah karena sudah berpikiran buruk pada Dio. Tapi semua sudah terlanjur menjadi bubur. Menurutku, Winda yang masih harus dipersalahkan dalam keadaan ini. Dia penyebab semuanya. Saat itu, kan, aku tidak tahu apa-apa. Hanya “menyangka” hubungan mereka saja. Kalau saja Winda menceritakannya secara rinci pasti tidak begini keadaannya. Ah! Persetan. Seperti itulah ceritanya, kurasa.
                Aku mengumpulkan barang-barang yang membuatku mengenang segala hal tentang Dio. Yang membuatku selalu merindukannya. Aku mengumpulkannya dalam sebuah plastik besar. Aku beranjak pergi menuju lantai paling atas.
                Aku menarik napas panjang ketika angin menerpa wajahku ringan. Kedua tanganku memeluk plastik tadi. Satu per satu kakiku melangkah menuju pagar yang membatasi wilayah tempat jemuran di lantai tiga. Aku menaiki pagar itu, berdiri di atasnya. Aku menyeringai. Tersenyum. Lalu melompat.
                “Aaaaaaaaah.......”
***
                “Astaga apa itu?” tanya Winda. Buru-buru ia berlari keluar, mencari tahu apa yang terjadi.
                Langkahnya berhenti seketika, saat melihat raga Diba terkujur kaku di tanah. Mulut dan kepalanya mengekskresikan darah. Winda menatap ngeri. Tapi pandangannya teralih pada secarik kertas yang menyelip di tangan Diba. Winda mengambilnya dan membaca tulisan yang tertera disitu.
               "Aku kangen banget sama Dio. Aku nyusul dia dulu ya."
                Air mata Winda menitik. Andai waktu itu Diba tahu segalanya.
                “Semuanya nggak kaya yang lo kira, Ba.”

Rabu, 12 Juni 2013

senja ada cerita

    
Tepat waktu. Sesampainya, aku langsung menaiki anak tangga yang terpaku di pohon besar, dihadapanku. Segesit mungkin aku mencari posisi ternyaman untukku duduk. Hanya tinggal seperempat jam lagi matahari akan turun ke habitatnya. Mengusaikan pekerjaannya hari ini.
      Sedikit-sedikit gundukan awan di langit sana memerah, menanarkan warna lembayung senja. Bola mataku merekam kejadian indah itu. Disaat warna merah memudar menjadi jingga. Kukeluarkan sebuah voicerecorder.
      “Aku mencintai senja. Aku mencintaimu. Tak akan ada yang bisa menalarkan untaian kata indah tentangmu.  Yang ku tahu senja adalah kamu.” Aku mendengarkan setiap ucapan yang terdengar dari benda tersebut.
        “Aku mencintaimu juga. Sekarang aku melihat senyummu di lembayung itu. Kau pasti bahagia telah bersatu dengan senja.” ucapku berbisik, berbicara sendiri. Mungkin hanya voicerecorder itu yang menjadi pendengar bisu dari curahan hatiku yang ku semburkan.
         Aku mendengar percakapan dalam voicerecorder itu. Pilu ketika mendengarnya, air mataku menitik jatuh tanpa diminta.
         “Aku nggak mau melepasmu seberapa pun ketidaksempurnaan aku.” terdengar suara Riko dari dalam voicerecorder.
         “Jangan bicara soal itu, Riko! Kamu selamanya sempurna. Disini… Di hati aku…”
         “Kamu tahu tidak? Bibir itu terlalu mudah berbicara. Pernyataan bibir itu tak pernah sesuai dengan kenyataan. Tapi untuk perkataanmu, aku percaya. Dan aku harap kamu jujur.”

         “Love you..” kataku menyambar. Mendengar semua percakapan tadi, hatiku tak mampu membendung nestapa.
         Dua bulan Riko pergi dari bumi ini, kaki-kakinya tak lagi berpijak pada bumi. Riko membawa album kenangan yang tak mungkin kembali. Senyap. Setiap matahari tenggelam, aku selalu hadir di tempat ini. Di rumah pohon milik Riko. Perlakuanku yang seperti ini terus menerus terjadi, setiap hari, hanya untuk menepati janjiku pada Riko, untuk selalu menjaga ‘si kecil’ kami. Senja. Matahari yang warnanya memias, itulah sosok yang dikagumi Riko. Aku pun tertarik pada hal yang sama dengannya.
         Butir air mataku terbingkai disudut mata. Riko, satu-satunya alasanku atas lamunan yang setiap detik aku lakukan. Aku selalu melamunkan kehadirannya. Dia membawa kabur kebahagiaanku. Meninggalkan sekotak besar rindu. Aku masih tak tahu sampai kapan akan berhenti menunggu, padahal sebenarnya ia tak akan pernah kembali. Aku masih belum bosan duduk di rumah pohon ini, sembari memandangi semburat indah lembayung senja.
         “Ariiiin!” teriak seseorang memanggil namaku. Aku menoleh.
         “Rio? Kenapa bisa disini?”
         “Ikatan batin, mungkin?”
         “Haha... Ayoo, pulaaang”
         Aku turun dari rumah pohon segesit mungkin. Sampai di anak tangga terakhir, aku melompat lalu menyambar lengan Rio. Aku menenggelamkan mukaku dibahunya. Rio merangkulkan tangannya dipundakku. Kami saling berangkulan. Kami berpelukan. Aku merasa berdosa karena sudah memagarinya dengan kebohongan yang aku buat, sekian lama ini. Tapi mencintai Riko dibelakang Rio bukan sebuah kesalahan selama 6 bulan ke belakang, bagiku.
         Aku bahagia, ahhh sudah, aku saja benar-benar tidak tahu mendeskripsikan rasa cintaku pada Riko, yang tercipta dibalik hubunganku dengan Rio. Riko sudah pergi duluan sebelum sempat membongkar semuanya, seperti yang akan kami wujudkan, tapi gagal. Biarlah keadaan ini jadi kenangan yang menyelimutiku.
         Wajah sore memias tertutupi gelap malam yang tak sabar datang. Aku menyeka air mata yang menyeruak keluar. Lembap membasahi jaket Rio yang terkena air mata. Lembap, karena wajahku terbenam dalam dada bidang Rio. Dia tak banyak bicara, apa lagi tanya, dia hanya diam dan membiarkanku merasa puas tenggelam dipelukannya. Aku mencintaimu…. Rioo… Rikooo… <3