Selasa, 13 Agustus 2013

Dear PHP!!!


Terlanjur dari awal aku sudah membayangkan semua keindahan yang ku kira akan benar-benar terjadi. Tapi semua semu, semuanya hanya bermuara dalam anganku. Kepadamu, aku menaruh harapan yang begitu tinggi. Kepadamu, aku terlanjur memimpikan hal yang terlalu mustahil untuk diwujudkan.
                Tapi apa daya, aku hanya bisa mengharapkan semua hal yang benar adalah keinginanku. Aku kagum akan adanya ciptaan Tuhan yang bersanggah di hatiku. Setiap hari aku sudah terbiasa merangkul rindu yang selalu bertekuk dalam dirimu. Aku memangku harapan akan kehadiranmu untuk menghapus kerinduan yang mungkin akhirnya akan memaku jiwaku dalam bayanganmu.
Semua kekosongan selalu aku isi dengan ingatanku tentang betapa magisnya wujudmu. Kamu penyebab semua alasanku melamunkan hal yang di atas ambang kesadaran. Disini yang terbeban dalam pundak khayalku hanyalah sebuah tanya; ”kapankah akhirnya kita akan memadu rasa yang tak bertepuk sebelah tangan akan datang padaku dari padamu?”
Aku tak pernah mengerti kenapa perasaanku bisa sangat tulus tercipta hanya untukmu? Rasanya salah aku bisa mencintaimu sebegini dalam.

Minggu, 23 Juni 2013

Duka Dibalik Hujan


Titik-titik air mata Vera jatuh berirama seiringan isakannya berpadu senada dengan melodi alam yang dibuat rintik hujan. Tiada yang tahu air mata itu terjatuh, karena telah bercampur dengan cairan hujan yang ikut menyatu dipipinya. Kebahagiaannya lengkap sudah. Turunnya hujan saat ini ialah kebahagiaan yang menyusup ke setiap senti tubuhnya, membasahi kering jiwanya.
                                                                ***
“ayolah, Ver. Ini enggak se-kanak-kanak yang kamu pikir”
“nanti kamu sakit. Please deh ka…”
“paling enggak kamu rasain hujannya dengan tangan kamu”
Tiba-tiba Raka menarik lengan Vera. Memaksanya untuk ikut kegiatan yang sedang dilakukan Raka saat itu. Vera terkesiap karena dikejutkan oleh tindakan Raka lagi. Vera dipeluknya erat.
“kalau kamu kedinginan, semoga pelukan ini bisa buat kamu hangat. I love you!”
“kenapa kamu masih suka hujan-hujanan? Kamu lupa sama kondisi kamu?”
“semua penyakitnya sudah terlanjur menyebar. Jadi percuma. Cepat atau lambat, aku bakal…”
“aku mohon bertahan buat aku.”
“hujan ini memang gak bikin penyakitku membaik, justru sebaliknya. Tapi hujan ini bikin luka hati aku hilang. Aku merasa jatuh cinta lagi tiap kali hujan ini menimpa ubun-ubun aku”
“terhadapku?”
“iya, Vera. Kamu dan hujan sama-sama membuat hati aku terenyuh tiap hari.”
Tubuh Raka menimpa Vera, terpaksa ia harus menahan tubuh Raka sampai mendapat pertolongan. Raka pingsan. Tubuhnya yang besar terkulai lemas di pelukan Vera.
                                                                ***
Tepat 15 hari sepeninggalan Raka, Vera masih bisa membentuk lengkungan manis dibibirnya. Meski tak jarang air matanya membanjir. Seakan hujan itu menemani kesedihannya, Vera selalu merasa Raka menemaninya. Dirinya jadi merasa tak sendirian, sepertinya ia sudah benar-benar jatuh cinta pada ribuan tetes hujan yang datang akhir-akhir ini. Entah sampai kapan hal ini akan berlangsung. Entah bagaimana nanti keadaannya jika tetesan surga itu akan benar-benar lenyap sama sekali.

Rabu, 12 Juni 2013

senja ada cerita

    
Tepat waktu. Sesampainya, aku langsung menaiki anak tangga yang terpaku di pohon besar, dihadapanku. Segesit mungkin aku mencari posisi ternyaman untukku duduk. Hanya tinggal seperempat jam lagi matahari akan turun ke habitatnya. Mengusaikan pekerjaannya hari ini.
      Sedikit-sedikit gundukan awan di langit sana memerah, menanarkan warna lembayung senja. Bola mataku merekam kejadian indah itu. Disaat warna merah memudar menjadi jingga. Kukeluarkan sebuah voicerecorder.
      “Aku mencintai senja. Aku mencintaimu. Tak akan ada yang bisa menalarkan untaian kata indah tentangmu.  Yang ku tahu senja adalah kamu.” Aku mendengarkan setiap ucapan yang terdengar dari benda tersebut.
        “Aku mencintaimu juga. Sekarang aku melihat senyummu di lembayung itu. Kau pasti bahagia telah bersatu dengan senja.” ucapku berbisik, berbicara sendiri. Mungkin hanya voicerecorder itu yang menjadi pendengar bisu dari curahan hatiku yang ku semburkan.
         Aku mendengar percakapan dalam voicerecorder itu. Pilu ketika mendengarnya, air mataku menitik jatuh tanpa diminta.
         “Aku nggak mau melepasmu seberapa pun ketidaksempurnaan aku.” terdengar suara Riko dari dalam voicerecorder.
         “Jangan bicara soal itu, Riko! Kamu selamanya sempurna. Disini… Di hati aku…”
         “Kamu tahu tidak? Bibir itu terlalu mudah berbicara. Pernyataan bibir itu tak pernah sesuai dengan kenyataan. Tapi untuk perkataanmu, aku percaya. Dan aku harap kamu jujur.”

         “Love you..” kataku menyambar. Mendengar semua percakapan tadi, hatiku tak mampu membendung nestapa.
         Dua bulan Riko pergi dari bumi ini, kaki-kakinya tak lagi berpijak pada bumi. Riko membawa album kenangan yang tak mungkin kembali. Senyap. Setiap matahari tenggelam, aku selalu hadir di tempat ini. Di rumah pohon milik Riko. Perlakuanku yang seperti ini terus menerus terjadi, setiap hari, hanya untuk menepati janjiku pada Riko, untuk selalu menjaga ‘si kecil’ kami. Senja. Matahari yang warnanya memias, itulah sosok yang dikagumi Riko. Aku pun tertarik pada hal yang sama dengannya.
         Butir air mataku terbingkai disudut mata. Riko, satu-satunya alasanku atas lamunan yang setiap detik aku lakukan. Aku selalu melamunkan kehadirannya. Dia membawa kabur kebahagiaanku. Meninggalkan sekotak besar rindu. Aku masih tak tahu sampai kapan akan berhenti menunggu, padahal sebenarnya ia tak akan pernah kembali. Aku masih belum bosan duduk di rumah pohon ini, sembari memandangi semburat indah lembayung senja.
         “Ariiiin!” teriak seseorang memanggil namaku. Aku menoleh.
         “Rio? Kenapa bisa disini?”
         “Ikatan batin, mungkin?”
         “Haha... Ayoo, pulaaang”
         Aku turun dari rumah pohon segesit mungkin. Sampai di anak tangga terakhir, aku melompat lalu menyambar lengan Rio. Aku menenggelamkan mukaku dibahunya. Rio merangkulkan tangannya dipundakku. Kami saling berangkulan. Kami berpelukan. Aku merasa berdosa karena sudah memagarinya dengan kebohongan yang aku buat, sekian lama ini. Tapi mencintai Riko dibelakang Rio bukan sebuah kesalahan selama 6 bulan ke belakang, bagiku.
         Aku bahagia, ahhh sudah, aku saja benar-benar tidak tahu mendeskripsikan rasa cintaku pada Riko, yang tercipta dibalik hubunganku dengan Rio. Riko sudah pergi duluan sebelum sempat membongkar semuanya, seperti yang akan kami wujudkan, tapi gagal. Biarlah keadaan ini jadi kenangan yang menyelimutiku.
         Wajah sore memias tertutupi gelap malam yang tak sabar datang. Aku menyeka air mata yang menyeruak keluar. Lembap membasahi jaket Rio yang terkena air mata. Lembap, karena wajahku terbenam dalam dada bidang Rio. Dia tak banyak bicara, apa lagi tanya, dia hanya diam dan membiarkanku merasa puas tenggelam dipelukannya. Aku mencintaimu…. Rioo… Rikooo… <3

Minggu, 19 Mei 2013

CERMIN DIRI


“aku benar-benar kecewa soal itu.. Percuma mulutku berbui sampai robek. Kau takkan pernah paham maksudku. Dan jika kalturalis masih mengikat kuat didalam pikiranmu, sampai mampus pun kau takkan bisa terima aku.” -Kahlil Gibran-

            Menuntaskan rindu hingga hampir benar-benar  hilang tak akan pernah terjadi meskipun aku telah bertemu dengan wujudmu. Aku sesak menahan rindu yang mencekik. Rasa rindu ini takkan mungkin hilang jika tak bisa memecah lewat kata-kata untuk bisa aku perdengarkan padamu. Aku bukanlah ‘si pengecut’ yang takut untuk jujur. Tapi lihat, sebuah kata EGO masih tertulis tebal dijidatmu.
Kamu tak akan pernah peka meskipun aku bertingkah seperti orang gila dan berteriak memekakan telingamu. Banyak hal yang terus kamu permasalahkan. Kamu secara tidak langsung membunuh hati ini perlahan-lahan. Bermain saja, kau, hei gadis terindah, dengan duniamu sendiri. Sejujurnya, apa yang kamu pikirkan saat kamu sibuk dengan hal-hal yang tidak jelas itu?
            Tanganmu dingin. Apa kamu lelah dengan keadaan yang kamu rasakan saat ini? Justru aku yang paling lelah dalam posisi ini. Kamu tak tahu, meskipun kamu terkujur kaku di kasur tipis ini, tapi debaran jantungku masih tak bisa aku kendalikan. Benarkan? Diposisi ini aku yang paling menderita. Aku terus berulang kali menyatakan cinta, membisikkan rindu, menghangatkan tanganmu, menghabiskan waktu, hanya untuk kamu yang cuma bisa diam, tertidur pulas.
            Aku ingin terus mempertanyakan keadaan ini. Kenapa aku mendapatkan cinta yang menyakiti hati sedangkan di sudut lain berjuta pasangan merasakan cinta yang mengindahkan dunia mereka. Aku tak tahu seberapa kuatnya buih bidsamu yang kau campurkan ke dalam rongga dadaku sehingga bisa sampai-sampai membuat air mataku terurai.
            Aku bukanlah dokter yang paham bagaimana sebetulnya cara kerja penyakitmu yang merobohkan kesehatanmu. Aku bukan pula Tuhan yang mampu hanya dengan kedipan mata bisa menghilangkan luka dijiwamu dan membangunkanmu dari tidur panjang.
            Siapa yang menyangka, ternyata didalam pulasnya tidurmu, aku tak tahu bahwa didalam bait-bait mimpimu, kau sedang beradu sengit dengan ‘sang malaikat pencabut nyawa’. Maaf aku terlalu egois untuk tahu bahwa kau ternyata mencari sebuah kesepakatan dari beberapa pilihan yang telah ditawarkannya. Tapi kenapa kamu memilih terbang ke langit yang tinggi disana ketimbang memilih bertahan hidup dengan mahkluk keji ini? Aku? Apa kau sudah lelah dengan kefanaan dunia ini? Jujur, aku masih belum mampu mendapat cerita separah ini. Aku masih belum siap berjalan tanpa kau ikuti.
            Biarkan aku membungkukkan tubuh, biarkan aku mencondongkan raga ini pada dirimu. Ikhlaskanlah aku mengecup lembut bibir merahmu sebagai perpisahan sebelum akhirnya nanti objek itu akan membiru. Biarkan aku mendapatkan waktu, menempelkan bibir yang bergetar ini untuk mencari arti bahagia dalam kesedihan. Biarkan aku merutuki diriku sendiri karena menganggapmu egois.

Kamis, 16 Mei 2013

Ambang Logika


                                                          
beryl :)
Para pejalan kaki yang berseliweran melihat penasaran ke arah kita, kamu dan aku. Taman yang saat itu ramai dipenuhi oleh manusia yang berlalu lalang. Sontak semua perdebatan yang sengit sejak tadi, menguap tak menyisakan jejak. Membuat kamu dan aku saling bermain dalam pikiran masing-masing, membiarkan matahari membakar pasif ubun-ubun kita.
Dada bidangmu seolah memaksaku untuk memelukmu, rambut cepakmu membuatku merindukan halusnya helai-helai disaat dulu aku pernah mengelusnya, dan hampir membuatku terlupa pada keadaan saat ini.
            “Aku menyayangimu.”
            “Tapi aku sadar perasaan ini tak lebih dari sekedar teman.”
            “Apa kamu lupa, yang kita jalin saat ini bukan sekedar persahabatan.”
“Kalau aku tahu dia, aku akan mencoba mengerti.”
“Aku memiliki alasan untuk tidak memberitahukannya. Dia terlalu menanti dan mengharapkan kehadiranku”
“Aku tahu kamu masih mencintaiku. Dan aku akan lebih setia menantimu hingga akhirnya kamu selesai dengan orang itu.”
Semua memang diluar batas logika. Aku mengusap asal air mata yang mencair lewat sudut mataku. Ada seseorang yang lebih mencintaiku dari empat tahun terakhir, jauh sebelum aku mengenalmu. Aku merasa bodoh karena baru menyadari semuanya, dia sahabatku. Aku memang tak merasakan perasaan yang berbeda, tapi aku pasti memiliki rasa itu meskipun hanya secuil.
Dia sudah berusaha dari awal memperjuangkan cintanya dan membulatkan kesetiaannya. Kenapa tidak untuk memperjuangkan perasaannya untuk membahagiakannya. Aku akan berusaha membalasnya. Aku akan berusaha mencetak senyum dibibirnya oleh diriku, seorang gadis bodoh yang tak menyadari perasaan sahabatku sendiri.
            “Aku menyayangimu…”
Aku mengecup pipi si pemilik rambut indah ‘nan panjang yang sedang terkujur kaku diatas kasur tipis yang dililiti sejumlah selang ditubuhnya. Sekuat tenaga aku mempertahankan air mata yang terbendung di pelupuk mata.  wajah yang sangat cantik dan nyaris sempurna, jika dilihat dari cekungan wajahnya. Aku tak akan meninggalkannya dalam keadaan yang seperti ini.
            “Aku mencintaimu, tolong berikan senyuman itu, jangan biarkan warnamu punah.”
Jari lentik yang sedari tadi ku genggam tiba-tiba bergerak perlahan mengembalikan kehangatan tubuhnya dan meremas lemah tanganku. Mataku terbelalak.